Adat Rambu Solo Tana Toraja

Satu diantara upacara adat yang populer di Tana Toraja yaitu Rambu Solo, yakni suatu upacara adat berbentuk prosesi pemakaman khas Tana Toraja. Orang-orang Tana Toraja memiliki keyakinan bahwasanya seorang yang sudah wafat maka kematiannya di anggap belum sempurna apabila belum mengadakan upacara adat Rambu Solo. Maka sebelum saat sistem upacara diadakan, orang yang wafat itu bakal diperlakukan seperti orang yang tengah sakit atau dalam keadaan lemah. Mereka bakal terus dihormati serta diperlakukan seperti mereka tetap hidup, seperti membaringkannya di ranjang saat akan tidur, meyediakan makanan serta minuman sampai mengajaknya bercerita perihal kehidupan keseharian. Biaya yang dibutuhkan untuk mengadakan upacara adat ini tidaklah sedikit, maka tak heran apabila upacara pemakaman dapat diadakan berbulan-bulan sampai bertahun-tahun lamanya sesudah orang itu wafat.
676rambu-solo-traja555
Pada intinya upacara adat Rambu Solo terdiri jadi dua prosesi, yaitu Prosesi Pemakaman atau di kenal juga dengan nama Rante dan Pertunjukkan Seni. Ke-2 prosesi itu tak diadakan secara terpisah tetapi saling melengkapi secara seluruh. Untuk Prosesi Pemakaman atau Rante umumnya diadakan di lapangan spesial yang terdapat di tengah-tengah kompleks rumah adat Tongkonan dengan susunan acara yang pertama yaitu proses pembungkusan jenazah yang dimaksud dengan Ma’Tudan Mebalun, yang ke-2 proses hiasi peti jenazah dengan memakai benang emas serta perak atau dimaksud Ma’Roto, yang ketiga yaitu proses perarakan jenazah ke suatu tempat persemayaman atau dimaksud Ma’Popengkalo Alang, serta yang paling akhir yaitu Ma’Palao/Ma’Pasonglo yaitu proses perarakan jenazah dari kompleks rumah adat Tongkonan menuju kompleks pemakaman (Lakkian).

Sedang untuk Prosesi Pertunjukkan Kesenian mempunyai susunan acara yang pertama yaitu perarakan kerbau untuk kurban, dilanjutkan dengan pertunjukkan sebagian musik daerah seperti Pa’Pompan, Pa’DaliDali serta Unnosong dan tarian kebiasaan setempat seperti Pa’Badong, Pa’Dondi, Pa’Randing, Pa’Katia, Pa’Papanggan, Passailo serta Pa’Silaga Tedong. Baru selanjutnya menuju pertunjukkan adu kerbau yang di kenal dengan nama Mapasilaga Tedong. Yang paling akhir yaitu ritual penyembelihan kerbau untuk hewan kurban.
1254_Proses_Upacara_Rambu_Solo_yang_menjadi_daya_tarik_bagi_wisatawan_yang_berkunjung_ke_Tana_Toraja
Pertunjukkan seni yang diadakan bukan sekedar berperan untuk menyemarakkan proses pemakaman, tetapi juga untuk wujud penghormatan serta doa untuk orang yang telah wafat. Umumnya jumlah kerbau yang disembelih menjadi ukuran tingkat kekayaan serta derajat orang yang wafat saat mereka masih hidup. Upacara kebiasaan Rambu Solo untuk orang-orang Tana Toraja dianggap untuk satu upacara yang penting serta hukumnya wajib. Upacara adat ini mencerminkan kehidupan orang-orang Tana Toraja yang senang bergotong royong, mempunyai sikap kekeluargaan dan untuk wujud penghormatan serta dedikasi mereka pada orang yang sudah wafat.