Menu

EDDY TANSIL, DARI JURAGAN BECAK SAMPAI BURONAN KELAS KAKAP INDONESIA

Sedikit tentang perjalanan panjang Eddy Tansil, juragan becak yang menjadi buronan kelas kakap pemerintah Indonesia. Koruptor legendaris Indonesia, Eddy Tansil ini telah merugikan negara sebesar $.565 juta, kabur dari penjara cipinang tahun 1996 dan menghilang hingga kini.

Eddy Tansil alias Tan Tjoe Hong alias Tan Tju Fuan

Siapa koruptor kelas kakap yang kalian tau, Setyanovanto, Gayus, Nazarudin? Mereka semua lewat jika dibandingkan dengan Eddy Tansil. Sepak terjangnya dalam urusan korupsi sangatlah lihai, hingga patutlah jika dia dijuluki koruptor legendaris sepanjang sejarah Indonesia. Eddy Tansil adalah buronan besar sepanjang masa bagi Indonesia.

  • Harga beras                                        Rp. 1,100/kg
  • Harga premium                                 Rp. 700/liter
  • Harga motor Astrea Grand           Rp. 4,3 juta

Kasus korupsinya tahun 1994 berawal saat Bapindo (Bank Pembangunan Indonesia) memberikan kredit ke perusahaan Golden Key Gold (GKG) miliknya sebesar $.565 juta atau Rp.1,3 Triliun (Kurs Dollar tahun 1996 sebesar Rp.2000) Angka Rp. 1,5 Triliun tahun 1996 sebuah nilai fantastis mengingat saat itu harga barang sekitar :

UMR saat itu Rp. 36,000. Kasus ini langsung menjadi heboh kala itu, karena ini adalah korupsi pertama di Indonesia yang kerugiannya diatas 1 Triliun Rupiah. Jika hasil penggelapan dana $.565 juta, memakai persamaan kurs saat ini (September 2019) Rp. 14,144 maka hasilnya adalah Rp. 7,9 Triliun (Rp. 7,991,311,341,858) duh berapa tuh angkanya.

Eddy Tansil alias Tan Tjoe Hong alias Tan Tju Fuan adalah pengusaha yang memulai bisnisnya sebagai produsen Bajaj. Ketika usahanya berkembang, Tansil mengambil alih perusahaan perakit sepeda motor Kawasaki, pabrik cetakan baja dan mendirikan pabrik produksi becak. Tapi usaha Tansil sempat berhenti, perusahaan bajaj & becaknya tak lama berselang juga berhenti karena Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta waktu itu mengeluarkan larangan becak sebagai kendaraan umum. Pabrik perakitan sepeda motor Kawasaki miliknya juga bangkrut setelah masuknya Suzuki & Honda ke Indonesia.

BACA JUGA : RAMPOGAN MACAN, ANTARA TRADISI DAN PEMBANTAIAN (Bagian 1)

Tansil hampir bangkrut total, tapi dia diselamatkan oleh usahanya yg lain yaitu pabrik cetakan baja. Keuntungan dari hasil baja ini membuat Tansil kembali melebarkan sayap bisnisnya. Tansil mendirikan PT. Rimba Subur Sejahtera sebuah pabrik yang memproduksi bir dibawah lisensi Becks Beer Company dari Jerman dengan modal awal Rp. 2 Miliar bersama pensiunan tentara Angkatan Darat Mayjend (Purn) Koesno Achzan Jein sebagai rekan bisnisnya. Tak main-main, saat itu pabrik bir ini mendatangkan mesin penyuling tercanggih, membuat pabrik Bir milik Tansil dan Koesno ini jadi pabrik bir tercanggih se Asia Tenggara, dengan nama produk Becks Beer atau dikenal masyarakat dengan Bir Kunci.

Beer Kunci

Tapi bir itu hanya bertahan dua tahun, kiprahnya harus berakhir di Indonesia karena sepi peminat.

Maka Tansil memindahkan pabrik dan produksi birnya ke Fujian, Tiongkok. Di Cina bisnis bir ini meraih sukses besar, bahkan Tansil mendapat julukan “Bapak bir Fujian”. Berhasil dalam usaha bir, lalu Tansil mendirikan PT Golden Key Group (GKG) yang bergerak dibidang petrokimia, dibisnis inilah awal mula Tansil terlibat kasus akibat gelontoran dana Bapindo sebesar $.565 juta ke perusahaannya.

Dana ini mengalir secara bertahap. Mulai dari tahun 1991 sampai tahun 1994 tapi kredit Tansil mulai macet pada tahun 1994. Akibat kredit macet ini anggota komisi VII DPR-RI saat itu, Ahmad Arnold Baramuli mencurigai adanya kesalahan prosedur yang terjadi dalam penyaluran kredit. Setelah diselidiki, ternyata terjadi mark up dan proyek fiktif yang dilakukan Tansil untuk melancarkan kucuran dana dari Bapindo.

Mulusnya jalan Tansil mendapat dana dari Bapindo disebut akibat kedekatannya dengan lingkaran keluarga cendana, yakni dengan Tommy Soeharto & Sudomo.

Tommy Suharto

Keterkaitan antara putra bungsu Suharto yakni Hutomo Mandala Putra alias Tommy Suharto bisa dilihat dari kongsi bisnis Tommy dan Tansil. Pada tahun 1990, Tommy ikut memiliki saham di PT. Hamparan Rejeki yang merupakan anak perusahaan dari PT. Golden Key Group milik Eddy Tansil. Tommy disebut terlibat karena menjadi perantara yg memperkenalkan Tansil kepada para petinggi Bapindo. Sehingga Bapindo memberikan 16 kali pinjaman kepada Tansil untuk proyek pembangunan pabrik.

Anehnya, Tansil tidak memberikan jaminan kepada Bapindo dan Bapindo tidak memeriksa catatan kreditnya. Kongsi Tansil dan Tommy di PT. Hamparan Rejeki hanya proyek fiktif dan pabrik yang direncanakan tak pernah ada wujudnya. Sayangnya setelah Tommy ikut menikmati proyek fiktif tersebut, dia meninggalkan Tansil. Akibatnya Tansil menanggung sendirian beban atas kasus hukum tersebut.

BACA JUGA : RAMPOGAN MACAN : Tradisi Penguasa Jawa (Rampogan Macan Bagian 2)

Sedangkan keterkaitan Tansil dan Laksamana TNI (Purn) Sudomo yang saat itu menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan salah satunya adalah memberikan surat sakti (Katebelece) kepada Tansil sehingga dengan mudahnya dia mendapatkan persetujuan pinjaman dana Bapindo tahun 1991.

Laksamana TNI (Purn) Sudomo

Saat itu pengaruh Sudomo dalam pemerintahan orde baru sangat kuat, karena Sudomo salah satu menteri kesayangan Suharto. Nama Sudomo amat terkenal bagi rakyat Indonesia yang hidup dimasa orde baru. Coba tanya keluargamu, siapakah Sudomo, kemungkinan mereka akan memberikan jawaban seputar citra buruk seorang Sudomo.

Saat dipersidangan tahun 1994 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Eddy Tansil menyebut nama Sudomo selaku pemberi surat sakti, Tommy Suharto sebagai rekan bisnisnya dan Menteri Keuangan J.B Sumarlin yang ikut mempermudah cairnya dana kredit dari Bapindo. Tahun 1995 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis Eddy Tansil bersalah, dengan hukuman 20 tahun penjara, denda Rp. 30 juta, membayar ganti rugi Rp. 500 miliar dan membayar kerugian negara Rp. 1,5 triliun, Eddy Tansil resmi mendekam dibalik jeruji besi LP Cipinang.

J.B.Sumarlin

Tapi dalam satu tahun menjadi tahanan, Tansil tercatat lima kali izin keluar penjara dengan alasan berobat ke RS Jantung Harapan Kita. Sialnya saat izin kelima, pada 4 Mei 1996, Tansil izin keluar penjara untuk berobat dan tak pernah kembali lagi sampai detik ini. Eddy Tansil kabur bersama seluruh anak dan istrinya, namanya dikenang sebagai legenda korupsi Indonesia.

Eddy Tansil

Indikasi selama ini, Tansil dan keluarga berpindah-pindah negara mulai dari India, Australia, Tiongkok dan Singapura. Bahkan ada beberapa pihak yang mengatakan Tansil dan keluarga bukan menghilang, tapi “sengaja dihilangkan untuk menutupi jejak tokoh lain yang terlibat dengan kasus besar korupsi Tansil tersebut. Sudomo menolak dikaitkan dengan kasus Tansil, berdasarkan wawancara Harian Republika 17 Mei 1996.

“Silakan dicek, apa benar saya berhubungan dengan yang bersangkutan untuk mengeluarkan surat, kalau saya mau dijelekkan, silakan saja, ndak ada soal”.

Masih dikutip dari wawancara Sudomo dengan Harian Republika 17 Mei 1996, Sudomo membantah telah membantu Tansil melarikan diri.

“Kalau tak ada bukti kan bisa memfitnah saya, kalau mengatakan saya menyembunyikan Tansil untuk kemudian melarikan diri, saya akan tuntut”. Begitupula dengan J.B Sumarlin, saat diwawancarai Tempo, dia menepis kabar dan mengatakan Tansil memfitnah dirinya soal kasus dana Bapindo.

“Dengan alat apa saja, saya tak pernah kontak sama dia (Edy Tansil)”

Sementara Tommy tidak pernah mau bersuara soal kasus Eddy Tansil, dia diam seribu bahasa tiap dicecar pertanyaan soal keterlibatan dirinya. Tahun 2013 publik sempat dihebohkan dengan temuan Kejaksaan Agung bahwa Eddy Tansil diketahui berada di China. Jaksa Agung Basrief Arief menyampaikan dalam Konferensi Pers 23 Desember 2013. Kejaksaan melakukan usaha ekstradisi dengan mengirimkan surat kepada Pemerintah China.

Walaupun sudah meminta ekstradisi Eddy Tansil kepada pemerintahan China sejak 2013 tapi tidak ada  kejelasan dari kelanjutan upaya pemulangan kembali Eddy Tansil. Belum terlihat hasilnya sampai saat ini 2019. Sudah 6 tahun berjalan, upaya ekstradisi ini buntu, tak jelas bagimana hasil akhirnya.

Rakyat Indonesia ingin melihat wujud Eddy Tansil itu kini, karena selama kasus ini tenggelam, Eddy Tansil hanya dijadikan bahan bercandaan dengan istilah Eddy Tansil (EJAKULASI DINI TANPA HASIL)

Sumber Buku :

1. Pengantar Etika Bisnis karya Prof. Dr. Kees Bertens,MSC. Penerbit Kanisius, tahun 2000

2. Tionghoa Dalam Pusaran Politik karya Benny Gatot Setiono, Penerbit Trans Media Pustaka, 2008

Sumber berita sebagai data pendukung :

1. New York Times 28 May 1994 https://www.nytimes.com/1994/05/28/business/bank-scandal-may-expose-corrupt-links-in-indonesia.html

2. Chicago Tribune, 16 November 1994 https://www.google.com/amp/s/www.chicagotribune.com/news/ct-xpm-1994-11-16-9411160066-story,amp.html

Wawancara Harian Republika dengan Sudomo pada 17 Mei 1996. https://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/04/18/m2nunn-mengenang-sudomo-saya-dendam-kepada-eddy-tansilFar

4. Tanggapan J.B Sumarlin terkait kasus Eddy Tansil, 27 Oktober 2007. https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/110348/jb-sumarlin-mengaku-tak-pernah-berkomunikasi-dengan-edy-tansil

5. Kejaksaan Agung Melacak Eddy Tansil, Kompas 24 Desember 2013 https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/nasional/read/2013/12/24/1239115/Koruptor.Kakap.Eddy.Tansil.Terlacak.di.China

Untuk yang bertanya, Bapindo itu masih ada apa tidak? Saat ii sudah tidak ada lagi, karena tahun 1999 Bapindo sudah dilebur dengan Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Export Import berubah menjadi Bank Mandiri.

Inilah gedung Bapindo saat ini, Plaza Bapindo Mandiri Tower.

Gedung BAPINDO
No Responses

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *