Kapal Pinisi Warisan Budaya Nusantara

Kapal Pinisi Sulawesi Selatan – Mdalah sebuah kapal layar kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan. Bukan cuma itu, Kapal Pinisi juga menjadi kapal kebanggaan Negeri Indonesia. Ketenaran dan ketangguhan kapal ini sudah terkenal di seluruh dunia. Sudah sejak sekitar abad ke-14, Kapal Pinisi sudah berlayar dan menjelajah samudera di seluruh dunia.
17
Kapal Pinisi merupakan kapal yang istimewa. Kapal ini dibuat oleh tangan-tangan ahli tanpa menggunakan bantuan peralatan modern. Seluruh bagian kapalnya terbuat dari kayu dan dirangkai tanpa menggunakan paku. Meskipun demikian, Kapal Pinisi telah membuktikan keistimewaannya dengan menaklukkan samudera-samudera dan menjelajah negara-negara di dunia. Walaupun terbuat dari kayu, kapal ini mampu bertahan dari terjangan ombak dan badai di lautan lepas. Kapal Pinisi adalah satu-satunya kapal kayu besar dari sejarah lampau yang masih diproduksi sampai sekarang.
18
Masih ingatkah anda tentang perahu dalam film-film di layar kaca? Misalnya film tentang perompak, film petualangan kuno, film kolosal cina. Di dalam film tersebut ada kapal besar yang tebuat dari kayu, bukan?

Nah, di dunia ini di masa lampau banyak kebudayaan yang membuat kapal besar dari kayu, misalnya Eropa, Jepang, Cina, dan Amerika. Pada jaman itu, kapal-kapal kayu tersebut digunakan untuk berbagai keperluan yang melalui jalur laut. Misalnya, untuk ekspedisi (jaman sebelum ditemukannya pesawat terbang), untuk berdagang, bahkan untuk berperang. Dilihat dari dimensi ukurannya, Kapal Pinisi memang relatif lebih kecil, jika dibandingkan dengan kapal-kapal kayu besar dari berbagai kebudayaan diatas. Itu karena fungsi Kapal Pinisi sebagai kapal pengangkut barang.

Akan tetapi, hanya Kapal Pinisi-lah satu-satunya kapal kayu besar yang masih dibuat sampai sekarang. Dan tanah pembuatannya berada di wilayah negeri kita tercinta, Indonesia. Adalah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tempat dimana Kapal Pinisi masih dibuat sampai saat ini. Letaknya kira-kira 150 Km perjalanan darat dari Makassar, mengarah ke pesisir pantai tenggara Sulawesi Selatan. Di pesisir pantai inilah masih bisa anda jumpai tangan-tangan ahli pembuat kapal kayu Pinisi. Keahlian membuat kapal ini dimiliki oleh suku-suku di Sulawesi yang tinggal di daerah pesisir, yaitu suku Bugis Makassar. Keahlian ini diturunkan selama beratus-ratus tahun dari jaman nenek moyang mereka hingga sekarang.

Kapal Pinisi adalah kapal kayu tradisional buatan tangan (hand-made). Sebuah jenis kapal yang menggunakan layar dan hembusan angin sebagai penggeraknya (jaman dahulu belum menggunakan mesin sebagai penggerak kapal). Di tengah kapal ada 2 buah tiang yang tingginya sekitar 35 meter, dengan 7 buah layar jenis Sekunar yang terpisah-pisah dari depan sampai belakang.

Kapal ini berukuran panjang sekitar 15-40 meter, ukurannya tergantung dari si pemesan. Dibuat dengan menggunakan peralatan yang sederhana, dan dikerjakan oleh tangan-tangan ahli sebanyak 10 orang (biasanya disebut sebagai Sawi) yang dipimpin oleh 1 orang. Seseorang ini biasa disebut sebagai Punggawa(kepala tukang). Semua bagian ini kapal dibuat dari kayu. Bahan utama untuk membuat kapal ini biasanya dari kayu jati, kayu besi, atau kayu jati. Perakitan Kapal Pinisi juga tidak menggunakan paku (paku besi). Papan kayu saling disatukan dan dipaku dengan menggunakan kayu sisa pembuatan badan kapal. Proses pembuatan kapal ini tergantung dari ukuran kapal, biasanya memakan waktu selama 1-2 tahun. Semakin besar kapal yang dibuat, maka waktu pembuatannya akan lebih lama.

Dan tentu saja, sebagai sebuah hasil kebudayaan, pembuatan Kapal Pinisi disertai juga dengan upacara adat masyarakat setempat. Dari mulai pemilihan kayu, penebangan, awal pembuatan, sampai peluncuran kapal ke perairan tak lepas dari upacara adat. Rangkaian upacara ini bertujuan agar kapal yang dibuat bisa berfungsi sampai lapuk kayunya dan selalu selamat ketika berlayar di lautan bebas.

Suku Bugis Makassar terkenal ahli kelautan sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Mereka berlayar ke berbagai belahan bumi yang lain hanya dengan mengandalkan ilmu navigasi alam. Misalnya membaca bintang, membaca pola pergerakan awan, membaca arah angin, dan lain-lain.

Selain itu, mereka juga membuat alat angkutan laut sendiri. Yang paling luar biasa adalah dalam membuat Kapal Pinisi, seorang Punggawa memimpin proses pembuatan tidak menggunakan catatan. Catatan seperti perhitungan ukuran, desain kapal dan detail-detailnya tidak direkam dalam bentuk tulisan ataupun bentuk lain. Semua pengetahuan yang dimiliki seorang Punggawa tersimpan di pikirannya, dan diturunkan selama beratus-ratus tahun secara lisan. Oleh karena itu, Bulukumba mendapatkan julukan sebagai Bumi Para Ahli Pembuat Perahu.