Kebudayaan Masa Peralihan di Kampung Naga

Kampung Naga Jawa Barat – Adalah suatu perkampungan yang didiami oleh sekelompok masyarakat yang sangat kukuh dalam memelihara adat istiadat peninggalan leluhurnya, dalam hal ini yaitu adat Sunda. Seperti permukiman Badui, Kampung Naga menjadi obyek kajian antropologi tentang kehidupan masyarakat pedesaan Sunda pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat.

14
Kampung Naga adalah sebuah kampung adat yang masih lestari. Masyarakatnya masih memegang adat tradisi nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut. Namun, asal mula kampung ini sendiri tidak memiliki titik terang. Tak ada kejelasan sejarah, kapan dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan budaya yang masih kuat ini. Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah “Pareum Obor”. Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, Matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah kampung naga itu sendiri. Mereka tidak mengetahui asal usul kampungnya. Masyarakat kampung naga menceritakan bahwa hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip/ sejarah mereka pada saat pembakaran kampung naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo. Pada saat itu, DI/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. Kampung Naga yang saat itu lebih mendukung Soekarno dan kurang simpatik dengan niat Organisasi tersebut. Oleh karena itu, DI/TII yang tidak mendapatkan simpati warga Kampung Naga membumihanguskan perkampungan tersebut pada tahun 1956.
13
Berikut beberapa versi sejarah yang diceritakan oleh beberapa sumber diantaranya, pada jaman kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang memiliki nama Singaparana diutus untuk menyebarkan agama Islam ke arah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat itu, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga dipanggil Sembah Dalem Singaparana. Pada suatu hari dia mendapat wangsit atau petunjuk harus bertapa. Dalam pertapaannya Singaparana memperoleh petunjuk, bahwa ia harus mendiami suatu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Namun masyarakat Kampung Naga sendiri tidak meyakini kebenaran versi sejarah tersebut, sebab karena adanya “pareumeun obor”.