Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat

Kepulauan Mentawai Sumatera Barat – Kepulauan Mentawai merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan UU RI No. 49 Tahun 1999 dan disebut menurut nama asli geografisnya. Kabupaten ini terdiri dari 4 kelompok pulau utama yang berpenghuni yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan yang dihuni oleh mayoritas masyarakat suku Mentawai. Selain itu masih ada beberapa pulau kecil lainnya yang berpenghuni namun sebahagian besar pulau yang lain hanya ditanami dengan pohon kelapa.

16
Kepulauan Mentawai merupakan kepulauan yang terdiri dari beberapa puluh pulau. Pulau yang paling besar ada 3, yakni Pulau Siberut, Pulau Pagai dan Pulau Sipora. Di antara ketiga pulau ini pulau yang paling besar adalah Pulau Siberut dengan luas 4.480 km2. Sejak era otonomi daerah pulau-pulau Mentawai tidak lagi termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Padang Pariaman, melainkan menjadi kabupaten tersendiri yaitu Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan ibukota berkedudukan di Pulau Pagai dan termasuk wilayah Provinsi Sumatera Barat.

15
Jarak Kepulauan Mentawai dari kota Padang ± 135 km melintasi Samudra Hindia. Oleh karena itu transportasi menuju ke kepulauan ini sangat tergantung kepada cuaca, apabila sedang musim badai maka jarang ada kapal yang berani melintasinya. Keadaan ini sudah berlangsung selama berpuluh bahkan beratus tahun yang lalu sehingga membuat kepulauan Mentawai menjadi seperti “terisolir.” Akan tetapi kondisi ini sesungguhnya sangat menguntungkan di mana kepulauan Mentawai dengan segala isinya tumbuh dengan unik, terutama flora dan fauna yang hanya ada di Kepulauan Mentawai.

Penelitian antropologi belum berhasil membuktikan kapan tepatnya orang Mentawai mendiami Pulau Siberut. Penelitian yang ada menunjukkan bahwa kebudayaan orang Mentawai sejaman dengan kebudayaan Dongson di Asia Tenggara. Asumsi ini didasarkan dari pola hias benda-benda seni dari kayu yang coraknya mirip dengan corak benda-benda perunggu dari wilayah Dongson, seperti bentuk segitiga pada pola geometrik di nekara. Penelitian Reimar (1970) di Pulau Siberat juga menyebutkan ditemukannya kapak batu di pulau ini. Hal ini membuktikan bahwa kebudayaan Mentawai sarat dengan kebudayaan yang dikenal pada masa prasejarah. Kebudayaan Mentawai dikenal sebagai budaya yang tidak mengenal logam.

Lain halnya dengan penelitian arkeologi, yang selalu berhubungan dengan peninggalan budaya materi yang masyarakat pendukungnya sudah punah, keberadaan etnis Mentawai menjadi sangat penting. Terutama dalam hal memahami kehidupan prasejarah yang masih melakukan kegiatan ‘food and gather’s (berburu dan mengumpulkan makanan). Hal yang lebih menarik lagi adalah mengetahui kapan manusia pendukung budaya Mentawai bermukim, dan mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan budaya Mentawai bisa bertahan. Dari pengamatan diketahui bagaimana kearifan mengelola alam, bagaimana tingkat adaptasi di daerah yang lembab dan berlumpur tersebut.

Menurut agama tradisional Mentawai (Arat Sabulungan) seluruh benda hidup dan segala yang ada di alam mempunyai roh atau jiwa (simagre). Roh dapat memisahkan dari tubuh dan bergentayangan dengan bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuhnya tidak dipelihara, maka roh akan pergi dan dapat menyebabkan penyakit. Konsep kepercayaan ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kegiatan keseharian yang tidak sesuai dengan adat dan kepercayaan dapat mengganggu keseimbangan dan keharmonisan roh di alam.
Upacara agama dikenal dengan sebagai (punen, puliaijat atau lia) harus dilakukan bersamaan dengan aktivitas manusia sehingga dapat mengurangi gangguan. Upacara dipimpin oleh para sikerei yang dapat berkomunikasi dengan roh dan jiwa yang tidak dapat dilihat orang biasa. Roh makhluk yang masih hidup maupun yang telah mati akan diberikan sajian yang banyak disediakan oleh anggota suku. Rumah adat (uma) dihiasi, daging babi disajikan dan diadakan tarian (turuk) untuk menyenangkan roh sehingga mereka akan mengembalikan keharmonisan. Selama diadakan acara, maka sistem tabu atau pantangan (keikei) harus dijalankan dan terjadi pula berbagai pantangan terhadap berbagai aktivitas keseharian.
Kepercayaan tradisional dan khususnya tabu inilah yang menjadi kontrol sosial penduduk dan mengatur pemanfaatan hutan secara arif dan bijaksana dalam ribuan tahun. Bagaimanapun juga, sekarang kebudayaan tersebut berangsur hilang. Populasi penduduk tumbuh dengan cepat dan sumberdaya alam dieksploitasi tanpa mengindahkan peraturan tradisional sehingga berdampak menurunnya daya dukung lingkungan yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Mentawai.
Dalam melakukan kegiatan berburu, pembuatan sampan, merambah atau membuka lahan berladang atau membangun sebuah uma (rumah) maka biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh anggota uma dan pembagian kerja dibagi atas jenis kelamin. Setiap keluarga dalam satu uma membawa makanan (ayam, sagu, dll) yang kemudian dikumpulkan dan dimakan bersama-sama oleh seluruh anggota uma setelah selesai melaksanakan kegiatan/upacara.
Makanan pokok masyarakat Mentawai adalah sagu (Metroxylon sagu), pisang dan keladi. Makanan lainnya seperti buah-buahan, madu dan jamur diramu dari hutan atau ditanam di ladang. Sumber protein seperti rusa, monyet dan burung diperoleh dengan berburu menggunakan panah dan ikan dipancing dari laut ataupun sungai.