Museum 1.000 Moko di Pulau Alor

Museum 1.000 Moko NTT – Museum ini merupakan bukti betapa budaya di Pulau Alor dapat begitu sangat beragam dan khas. Disebut Museum 1.000 Moko karena moko mewakili kebudayaan penduduk Alor dan dianggap sebagai benda adat yang bernilai budaya sangat tinggi. Sedangkan angka 1.000 menunjukkan keanekaragaman suku sekaligus bentuk harapan masyarakat Pulau Alor.
3
Koleksi yang tersimpan di Museum 1.000 Moko cukup bervariasi, yaitu alat tenun, kain tenun, gerabah, alat nelayan tradisional, alat pertanian, meriam portugis, senjata peninggalan Jepang, baju adat, alat berburu tradisional, dan tentunya koleksi unggulan yaitu moko. Benda koleksi di museum ini terus diperlengkapi dimana museum ini berambisi mengoleksi moko dalam jumlah banyak hingga 1.000 atau lebih.

Masyarakat Alor sendiri menyebut moko sebagai sebutan untuk nekara perunggu yang umumnya dikenal sebagai salah satu benda sejarah peninggalan kebudayaan Dongson di Vietnam Utara. Orang Alor sendiri percaya bahwa Moko berasal dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya sangat tinggi. Dapat dipastikan tidak ada masyarakat adat di Nusantara yang mengoleksi moko dalam jumlah banyak seperti suku-suku di Pulau Alor.
4
Dalam sejarah peradaban Pulau Alor, moko dipakai sebagai belis atau atau mas kawin. Moko memiliki peranan penting bagi masyarakat Alor, yaitu kepemilikan terhadap jumlah dan jenis moko tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang.

Di beberapa suku tradisional di Pulau Alor, moko dipakai sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Selain sebagai alat musik tradisional, dahulu moko juga berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat Alor. Hal inilah yang sempat menyebabkan inflasi di kawasan tersebut pada masa pemerintahan Hindia Belanda sehingga membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko di Pulau Alor.

Sekarang Moko digunakan sebagai peralatan belis atau mas kawin serta simbol status sosial. Dalam adat dan istiadat pernikahan masyarakat Alor, moko digunakan sebagai alat pembayaran belis atau mas kawin seorang laki-laki kepada calon istrinya, itu karena moko dipercaya dapat mengikat pernikahan.

Sampai saat ini, adat menjadikan moko sebagai mahar masih terus berlangsung. Suku di Alor yang masih menetapkan mas kawin dengan moko adalah suku Darang (Raja), Tawaka, Kalondama, Kawali, dan Balomasali. Tinggi rendahnya status sosial dinilai oleh banyaknya moko yang disanggupi saat membayar mas kawin.

Selain menyimpan koleksi moko, Museum 1.000 Moko juga menampilkan berbagai benda budaya dan peninggalan bersejarah yang ada di daerah Alor. Uniknya hampir 80 persen benda koleksi museum tersebut merupakan warisan dari koleksi seorang warga keturunan China di Kalabahi, bernama Toby Retika. Ia memutuskan untuk meninggalkan Kalabahi pada September 2003 dan memberikan semua hasil koleksinya itu kepada Pemerintah Kabupaten Alor.