NOKEN, KERAJINAN KHAS FUNGSI DAN FILOSOFI MASYARAKAT PAPUA

Noken Papua

Noken merupakan kerajinan tas rajut dari kulit kayu atau benang sintesis khas Papua. Rajutan ini dibuat oleh kaum wanita di Papua. Biasanya noken terbuat dari kulit kayu manduam, nawa, anggrek hutan, atau genemo dan serat pohon yonggoli dan pohon huisa. Kulit kayu diolah, dikeringkan, kemudian dipintal menjadi benang. Pewarna yang dipakai merupakan pewarna alam, seperti beberapa jenis buah hutan.

Dahulu Noken dibuat karena suku Papua membutuhkan sesuatu yang dapat memindahkan barang ke tempat yang lain. Tapi sekarang para wanita di Papua sudah jarang yang bisa membuat Noken padahal itu adalah warisan budaya yang menarik.

CARA MEMBUAT NOKEN

Noken kerajinan tas khas Papua

Untuk membuat sebuah noken, perlu waktu 1-3 minggu. Tahap pembuatannya pertama – tama Kulit kayu ditumbuk, kemudian dilakukan proses pengawetan yaitu dengan merendam ke dalam air agar serat kayu bertambah kuat. Lalu, kulit kayu dipilin menjadi benang seperti tali kecil (string).

Selanjutnya, tali kecil tersebut dianyam menjadi Noken. Saat menganyam dibentuk suatu “cincin” lalu diikat menjadi simpul mati.

Cara menganyam noken pada umumnya mirip dengan teknik crochet yang dikembangkan di Jepang dan negara-negara Eropa.

Namun demikian, para perempuan  Papua memiliki teknik pembuatan noken yang unik dan dikembangkan sendiri oleh mereka. Oleh karena itu noken merupakan karya asli orang Papua dan dewasa ini telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia di samping kain batik dari Jawa.

Di beberapa daerah, Noken diberi hiasan agar semakin menarik. Hiasan ini terbuat dari kulit pohon anggrek baik yang berwarna kuning, emas atau pun yang berwarna hitam. Noken terbuat dari bahan alami yang ramah lingkungan. Tak hanya terbuat dari kulit kayu, Noken juga dibuat dari benang katun, bahkan ada juga dari benang wol.

Secara filosofis, masyarakat Papua membuat Noken dahulu adalah digunakan untuk melambangkan kedewasaan si perempuan. Karena jika perempuan Papua belum bisa membuat Noken dia tidak bisa dianggap dewasa dan itu merupakan syarat untuk menikah.

Dan secara adat, laki-laki papua tidak diperbolehkan membuat Noken, karena Noken melambangkan kesuburan seorang perempuan.

Yang menarik dari Noken ini adalah hanya orang Papua saja yang boleh membuat Noken.

FUNGSI NOKEN BAGI MASYARAKAT PAPUA

Noken sebagian besar dimanfaatkan masyarakat di pedesaan atau pegunungan Papua untuk membawa ternak, kayu api, atau hasil kebun yang dipanen dari kebun baik sayur, umbi-umbian ataupun buah untuk dijual di pasar atau sebaliknya.

Pelajar dan mahasiswa juga banyak yang menggunakan Noken, berukuran kecil, untuk membawa buku dan alat tulis atau kebutuhan pribadi. Kaum bapak memanfaatkan Noken untuk membawa buah pinang, sirih, maupun tembakau ketika hendak bersosialisasi dengan teman dan kerabatnya.

Sedangkan kaum ibu juga memfungsikan Noken sebagai gendongan bayi atau baby carrier. Seorang ibu kadang membawa dua buah Noken bahkan lebih.

Saat menggunakan noken, beban tidak berada di pundak. Ujung tas Noken ditempatkan di atas kepala yang dekat bagian dahi.

Mama-mama Papua menggunakan Noken di dahinya

Orang-orang Papua biasa membawa Noken dengan cara yang unik, seperti gambar diatas ini, yaitu menggantungkan talinya di kepala dan membiarkan tas menggantung di punggung mereka. Untuk membawa lebih dari satu noken, mereka menggantungkannya secara bersusun, mulai yang terbesar hingga terkecil.

NAMA LAIN NOKEN

Di tempat yang berbeda di Papua, noken juga sering punya sebutan yang berbeda. Noken dalam Bahasa Biak biasa disebut

Inokson , suku Marind – Merauke menyebutnya Mahyan, suku Moor menamai Aramuto  dan suku Dani menyebut Su. Di daerah Paniai-Nabire misalnya, noken disebut Agiya. Di daerah Sentani, disebut Holoboi. Ada juga noken besar yang hanya dipakai oleh kaum bangsawan, yang disebut Wesanggen.

Ada sekitar 250 suku di Papua, masing-masing mempunyai kekhasan untuk noken mereka. Yang jelas, noken melambangkan kesuburan, serta persatuan, kesatuan, dan kedamaian rakyat Papua.

Sejak tanggal 4 Desember 2012, Noken masuk dalam daftar UNESCO sebagai warisan budaya tak benda yang memerlukan perlindungan mendesak.

NOKEN DAN PEMILU

Tahukah kamu pemilu di Papua tak pernah lepas dan selalu terkait dengan Noken? Ya, karena pada pemilu serentak 2019 kali ini saja ada sebanyak 12 kabupaten yang menggunakan sistem Noken. Penggunaan Noken ini sudah diatur dalam peraturan KPU (PKPU)

Kawasan yang masih menerapkan sistem Noken ada di daerah pegunungan tengah. Yaitu kabupaten Jayawijaya, Lanny Jaya, Tolikara, Nduga, Mamberamo Tengah, Puncak, Puncak Jaya, Paniai, Deiyai, Dogiai, Yahukimo, dan kabupaten Intan Jaya. Hanya ada dua kabupaten  di kawasan pegunungan tengah yang tidak memakai sistem ini yaitu kabupaten  Yalimo dan Pegunungan bintang.

BACA JUGA : SISTEM NOKEN, TATA CARA DAN TEKNIS PELAKSANAANNYA

Noken dari tanah Papua memang unik. Bisa jadi tas. Bisa jadi kenang-kenangan. Juga bisa jadi hadiah untuk orang-orang yang kamu sayangi. Noken bisa ditemukan di pasar, pelabuhan, dan bandara di hampir seluruh wilayah Papua. Harganya bervariasi dari Rp. 100.000 hingga 500.000 per buah, tergantung pada ukuran dan motif yang menghiasi setiap noken.

……..***

Mari kita jaga warisan budaya leluhur kita. Jangan sampai budaya dan kearifan lokal asli Indonesia hilang ditelan perkembangan jaman. Kaum muda wajib melestarikan semua warisan budaya, terutama para putra putri daerah.

Jangan kita bereaksi justru setelah dicuri atau diakui oleh negara lain. Mari kita jaga harta budaya kita…!!!

Satu tanggapan pada “NOKEN, KERAJINAN KHAS FUNGSI DAN FILOSOFI MASYARAKAT PAPUA”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *