Noken Kerajinan Tangan Khas Papua

Noken Papua – Noken merupakan kerajinan tas rajut dari kulit kayu atau benang sintesis khas Papua. Rajutan ini dibuat oleh kaum wanita di Papua. Biasanya noken terbuat dari kulit kayu manduam, nawa, anggrek hutan, atau genemo. Kulit kayu diolah, dikeringkan, kemudian dipintal menjadi benang. Pewarna yang dipakai merupakan pewarna alam, seperti beberapa jenis buah hutan. Untuk membuat sebuah noken, perlu waktu 1-3 minggu. Tahap pembuatannya pertama – tama Kulit kayu ditumbuk, kemudian dilakukan proses pengawetan yaitu dengan merendam ke dalam air agar serat kayu bertambah kuat. Lalu, kulit kayu dipilin menjadi benang seperti tali kecil (string). Selanjutnya, tali kecil tersebut dianyam menjadi Noken. Saat menganyam dibentuk suatu “cincin” lalu diikat menjadi simpul mati. Di daerah saya, Noken diberi hiasan agar semakin menarik. Hiasan ini terbuat dari kulit pohon anggrek baik yang berwarna kuning emas atau pun yang berwarna hitam. Noken terbuat dari bahan alami yang ramah lingkungan. Tak hanya terbuat dari kulit kayu, Noken juga dibuat dari benang katun, bahkan ada juga dari benang wol.
5
Noken sebagian besar dimanfaatkan masyarakat di pedesaan atau pegunungan Papua untuk membawa hasil kebun, kayu api, atau ternak yang dipanen dari kebun untuk dijual di pasar atau sebaliknya. Pelajar dan mahasiswa juga banyak yang menggunakan Noken, berukuran kecil, untuk membawa buku dan alat tulis. Kaum bapak memanfaatkan Noken untuk membawa buah pinang, sirih, maupun tembakau ketika hendak bersosialisasi dengan teman dan kerabatnya. Sedangkan kaum ibu memfungsikan Noken sebagai gendongan bayi atau baby carrier. Seorang ibu kadang membawa dua buah Noken bahkan lebih. Saat menggendong bayi, beban tidak berada di pundak. Ujung tas Noken ditempatkan di atas kepala yang dekat bagian dahi. Yang menarik dari Noken ini adalah hanya orang Papua saja yang boleh membuat Noken. Membuat Noken sendiri dahulu bisa melambangkan kedewasaan si perempuan itu. Karena jika perempuan papua belum bisa membuat Noken dia tidak bisa dianggap dewasa dan itu merupakan syarat untuk menikah. Dahulu Noken dibuat karena suku Papua membutuhkan sesuatu yang dapat memindahkan barang ke tempat yang lain. Tapi sekarang para wanita di Papua sudah jarang yang bisa membuat Noken padahal itu adalah warisan budaya yang menarik.

6
Orang-orang Papua biasa membawa Noken dengan cara yang unik, seperti gambar di samping ini, yaitu menggantungkan talinya di kepala dan membiarkan tas menggantung di punggung mereka. Untuk membawa lebih dari satu noken, mereka menggantungkannya secara bersusun, mulai yang terbesar hingga terkecil. Di tempat yang berbeda di Papua, noken juga sering punya sebutan yang berbeda.  Di daerah Paniai misalnya, noken disebut agiya. Di daerah Sentani, disebut holoboi. Ada juga noken besar yang hanya dipakai oleh kaum bangsawan, yang disebut wesanggen. Ada sekitar 250 suku di Papua, masing-masing mempunyai kekhasan untuk noken mereka. Yang jelas, noken melambangkan kesuburan, serta persatuan, kesatuan, dan kedamaian rakyat Papua.

Sejak tanggal 4 Desember 2012, noken masuk dalam daftar UNESCO sebagai warisan budaya tak benda yang memerlukan perlindungan mendesak. Noken dari kota Kami Papua memang unik. Bisa jadi tas. Bisa jadi kenang-kenangan. Juga bisa jadi hadiah untuk orang-orang yang kamu sayangi. noken bisa ditemukan di pasar, pelabuhan, dan Bandara di kota kami. Harganya bervariasi dari Rp. 100.000 hingga 500.000 per buah, tergantung pada ukuran dan motif yang menghiasi setiap noken. Cara menganyam noken pada umumnya mirip dengan teknik crochet yang dikembangkan di Jepang dan negara-negara Eropa. Namun demikian, para perempuan Papua memiliki teknik pembuatan noken yang unik dan dikembangkan sendiri oleh mereka.Oleh karena itu noken merupakan karya asli orang Papua dan dewasa ini telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia di samping kain batik.