Pulau Alor di NTT

Pulau Alor Nusa Tenggara Timur – Kabupaten Alor adalah wilayah kepulauan yang terdiri dari 20 pulau. Sembilan pulau telah dihuni penduduk yakni Pulau Alor, Pulau Pantar, Pulau Pura, Pulau Tereweng, Ternate, Kepa, Pulau Buaya, Pulau Kangge dan Pulau Kura. Sedangkan 11 pulau lainnya masih belum berpenghuni.
1
Pulau Alor adalah sebuah pulau yang terindah di kabupaten ini, bersebelahan dengan Pulau Pantar. Pulau Alor memiliki banyak tempat wisata alam dan budaya yang eksotis. Keindahan pantai, biota lautnya, serta spot terbaik untuk diving menjadi incaran wisman. Kebeningan air laut dengan ikan warna-warni membuat laut Alor terkenal ke seluruh dunia. Bahkan taman laut Alor disebut-sebut terbaik kedua di dunia setelah Kepulauan Karibia.
2
Datang dari Jakarta, Surabaya atau Denpasar, Anda akan sampai ke Pulau Alor lewat Kupang. Lion Air, Batavia Air, dan Sriwijaya Air adalah maskapai penerbangan nonGaruda yang melayani rute Jakarta-Kupang dengan harga tiket mulai Rp 700 ribu. Dari Kupang , maskapai TransNusa melayani penerbangan ke Alor setiap hari. Perjalanan ditempuh selama 50 menit, dengan harga tiket antara Rp 350 ribu РRp 550 ribu. Alor juga bisa dicapai dengan menggunakan kapal feri PELNI. Kapal Pelni dari Kupang ke Alor dijadwalkan seminggu dua kali, dengan lama perjalanan 18 jam. Harga tiketnya Rp 75 ribu untuk penumpang dewasa, dan Rp 195 ribu untuk sepeda motor.

Bandara perintis ini dibangun tahun 1994, layak dilandasi pesawat jenis Fokker, Twin Otter atau Casa milik Merpati dan Transnusa. Saat menginjak bandara, bersiaplah menerima kondisi bahwa potensi wisata Pulau Alor yang luar biasa tidak berbanding lurus dengan fasilitas dan prasarana yang tersedia. Transportasi umum dari Bandara Mali ke Kota Kalabahi (ibukota Alor) tidak tersedia, sehingga wisatawan harus mencarter travel atau ojek tidak resmi, itupun tak mudah ditemui. Jika beruntung bertemu pengojek, Anda dapat bernegosiasi, tujuan ke Kalabahi atau salah satu penginapan di kota ini berkisar Rp 20 ribu- Rp 30 ribu. Sedangkan jika menumpang mobil travel tarifnya Rp 50 ribu- Rp 100 ribu per orang.

Inilah ibukota Kabupaten Alor yang memiliki pelabuhan alam sendiri. Kalabahi adalah bahasa Alor yang berarti pohon kesambi yang dulu banyak ditemukan di wilayah kota ini. Tahun 1911 pemerintahan kolonial Belanda memindahkan pusat pemerintahan di Alor yaitu dari Alor Kecil ke Kalabahi.

Untuk menginap, ada beberapa pilihan, dengan tarif kamar mulai Rp 65 ribu untuk tipe ekonomi. Misalnya Hotel Adi Dharma Jalan Martadinata hanya 200 meter dari Pelabuhan Kalabahi, Hotel Melati di sisi barat pelabuhan, dan Hotel Kenari Indah tak jauh dari Hotel Pelangi Indah di Jalan Diponegoro. Sedangkan untuk transaksi perbankan terdapat tiga bank yakni Bank BNI 46, BRI dan Bank NTT.

Di kota kecil ini transportasi umum adalah angkutan kota dan Bus Damri dengan tarif relatif murah yaitu Rp 1000 untuk pelajar, dan Rp 2000 umum. Namun rutenya hanya seputar Kota Kalabahi. Sedangkan angkot, meski memiliki nomor rute, trayeknya berdasarkan permintaan penumpang, mulai dari Rp 50.000 per tujuan.

Di Pasar Tradisional Kaledang, Anda bisa membeli ikan laut seperti kakap merah atau ikan ekor kuning dengan harga sangat murah. Harganya Rp 10.000 untuk setumpuk ikan (isi 4-5 ekor). Bahkan ada yang harga setumpuknya Rp5.000.

Untuk wisata budaya, kunjungi Museum 1000 Moko dan Museum Tenun Ikat. Di Museum 1000 Moko, Anda dapat menjumpai moko terbesar dan asli ditemukan di Pulau Alor yang diberi nama Nekara. Moko adalah warisan nenek moyang Alor sejak zaman perunggu. Bentuknya mirip tabung gendang/tambur dan seluruh permukaanya terdapat relief ukiran. Dahulu digunakan oleh prajurit dalam berperang, ditabuh untuk penyemangat perang. Masyarakat setempat memercayai moko didapat secara gaib, yang muncul kepermukaan dari tanah terpendam. Seiring waktu, moko digunakan untuk ritual upacara adat dan mas kawin (belis). Hingga kini masih ada beberapa suku yang tetap menggunakan moko sebagai mahar.

Melihat proses pembuatan tenun ikat khas Alor adalah wisata budaya Alor yang sangat unik. Setiap suku dan kampung memiliki motif tenun ikat dengan makna filosofis yang berbeda. Desa-desa adat yang kaya warisan budaya patut Anda kunjungi. Seperti desa adat Takpala dan Monbang yang memiliki rumah tradisional lopo dan upacara adat. Begitu beragam dan uniknya suku-suku Pulau Alor ini, sehingga di tahun 1944 sebuah buku berjudul The People of Alor ditulis oleh antropolog asing bernama Dr. Cora Du Bois. Buku ini meneliti keunikan suku-suku di Pulau Alor, berdasarkan penelitiaan pribadi selama 1,5 tahun di pulau ini.

Untuk mencapai kampung-kampung adat ini membutuhkan perjuangan, waktu dan biaya tidak sedikit. Selain lokasinya di pegunungan dengan jalan menanjak dan berbatu, tarif sewa kendaraan jenis off road (hard top) lumayan mahal sekitar Rp 750 ribu perhari.

Untuk wisata alam, ada 20 pulau besar maupun kecil di sekitar Pulau Alor. Salah satunya Pulau Kepa yang berukuran kurang lebih 2 ha. Lokasinya berada di seberang Pelabuhan Kalabahi. Dari pantai Alor Kecil terlihat Tanjung Kepa yang memiliki pasir putih meski tidak luas bibir pantainya.

Perjalanan ke Pulau Kepa dari Kalabahi memakan waktu sekitar 45 menit dengan kendaraan bermotor, dilanjutkan dengan menyewa perahu motor milik nelayan. Selain antar-jemput, sampan ini juga melayani rute antar-keliling Pulau Kepa. Ongkosnya relatif murah dan bisa negosiasi, mulai dari Rp75 ribu per orang. Daya tarik Pulau Kepa adalah tempat ideal untuk snorkeling dan diving. Untuk snorkeling bisa dilakukan setengah hari, lalu kembali ke Kalabahi. Sedangkan untuk diving membutuhkan waktu lebih lama, karena harus bersampan motor ke lokasi penyelaman. Ada resor di Pulau Kepa bernama Cedric Resort & Bungalow, milik warga negara Perancis yang menyewakan peralatan snorkeling dan diving. Tarif bungalo kayu di sini antara Rp 150 ribu-Rp 300 ribu per pengunjung.