Menu

RAMPOGAN MACAN, ANTARA TRADISI DAN PEMBANTAIAN (Bagian 1)

Artikel ini disadur dari thread twitter mas @opta_iwobi. Sebagian besar adalah materi dari thread tersebut dengan perbaikan seperlunya. Ini adalah thread asli dari twitter @opta_iwobi dengan judul asli [FRIDAY FACTS ; RAMPOGAN MATJAN & AKHIR RIWAYAT HARIMAU JAWA, A THREAD]

KLIK DISINI.

RAMPOGAN MATJAN

Tradisi Rampogan Macan

Sedikit sejarah singkat tentang satu tradisi unik di Pulau Jawa yaitu RAMPOGAN MATJAN / RAMPOGAN MACAN dan bagaimana tradisi ini turut berpengaruh terhadap punahnya hewan endemik yang hidup di Jawa pada masa lalu, Harimau Jawa.

Hari ini mungkin masih banyak masyarakat di Indonesia bahkan Pulau Jawa sendiri tidak menyadari bahwa pada suatu masa, pernah hidup harimau Jawa, binatang buas endemik  yang menjadi warna lain dari Pulau Jawa.

Apa ini adalah Harimau yang kalian lihat di taman safari atau bonbin? Ah bukan, itu bukan mereka. Mari kita kupas.

Pertama ada sedikit disclaimer, jadi penyebutan harimau itu berbeda-beda. Di Jawa Barat harimau itu disebut “Maung”, di Jawa Timur disebut “Macan”, Jawa Tengah pada abad 17 dan 18 menyebutnya sebagai “Sima”. Lalu tampilan fisik harimau itu adalah punya corek loreng-loren seperti gambar ini, jangan sampai terbalik. Buat yang nanti bilang “eh tapi harimau / macan di hutan Jawa masih keliatan tuh”.  Iya, itu sebenarnya adalah macan tutul Jawa (Panthera pardus). Mereka spesies beda seperti gambar ini.

macan/ harimau/ tiger

Harimau Jawa ini secara fisik adalah jenis terkecil kedua dibanding spesies lainnya di Indonesia usai Harimau Bali yang sudah punah. Lorengnya panjang dan tipis, lebih banyak daripada loreng harimau Sumatera yang masih hidup sampai sekarang.

Jenis harimau di Indonesia

Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaica) adalah spesies harimau yang pernah lama bercokol mendiami hutan-hutan di Pulau Jawa, sebelum maraknya tradisi Rampog dan perluasan wilayah pemukiman dan tumbuhnya kehidupan masyarakat di seluruh Jawa. Sayangnya, harimau ini dinyatakan punah berdasar putusan yang dikeluarkan IUCN tahun 1976 di Florida, usai kemunculannya tidak pernah ada lagi selama hampir lebih dari setengah abad, meskipun banyak kesaksian soal keberadaannya.

Data Harimau Jawa

RAMPOG MATJAN

Pada masa lalu di Jawa terdapat tradisi unik yang dinamakan “Rampog Matjan” . Tradisi berisi adu banteng atau kerbau melawan harimau Jawa yang biasa diselenggarakan di alun-alun Surakarta dan Yogyakarta abad ke-18 s.d. pertengahan abad ke-19. Kemudian acara akan dilanjutkan dengan menombak harimau secara ramai-ramai usai aduan berakhir.

Tradisi ini seringkali diselenggarakan pada momentum akhir puasa Ramadhan, serta pada momentum meperingati awal tahun baru Islam (Muharram). Tak ada yang tahu pasti sejak kapan di Indonesia harimau jadi hewan aduan. Menurut Boomgaard (1994), kepala ekspedisi Inggris Edmund Scott melihat hewan-hewan buas yang dikumpulkan pada 1605, konon akan dilibatkan dalam suatu perayaan khitan putra mahkota di Kesultanan Banten, termasuk harimau.

Macan berlarian diantara pasukan bertombak

Coolhas menulis, tahun 1620 dua orang Belanda tertahan di pintu masuk Taji, dekat ibukota Mataram. Si orang Belanda menulis surat kepada Gubernur Jenderal VOC di Batavia jika pemimpin Mataram Sultan Agung memerintahkan rakyat untuk menangkap 200 harimau dalam waktu 3 bulan. Harimau itu nanti akan diadu dengan siapapun pemberani yang bersenjatakan tombak. Pemberani yang berhasil lolos dari pertarungan melawan harimau akan diberi hadiah berupa bangunan, perempuan, keris, hingga baju.

BACA JUGA : EDDY TANSIL, DARI JURAGAN BECAK SAMPAI BURONAN KELAS KAKAP INDONESIA

Sejarah Malam Mingguan di Dunia

Kesaksian lain datang dari Van Goens seorang ambassador VOC yang mencatat, Amangkurat I kadang menyelenggarakan turnamen berisikan adu banteng vs harimau, banteng vs banteng, yang diselenggarakan di alun-alun dengan didahului turnamen tombak berkuda.

Awal tradisi rampog macan merujuk pada Babad Tanah Jawi diduga sudah ada sejak 1620-1700 ketika Amangkurat II yang diceritakan sedang sakit lumpuh kaki bersumpah untuk mengadakan ritual perburuan harimau dengan tombak, merujuk pada rampog macan.

Adapun pernyataan ini diperkuat oleh Valentijn, seorang saksi mata Belanda. Saat itu terdapat upacara dimana penguasa, pangeran, pembesar kerajaan dan istri-istrinya berkumpul di suatu tempat dimana harimau terlihat. Kemudian datang ribuan orang membawa tombak mengelilingi dan menggiring harimau kehadapan penguasa. Seringkali dalam prosesi ini harimau coba melepaskan diri lalu mati terkena tombak, dan sebaliknya satu dua orang kehilangan nyawa dalam upacara ini.

Pada tahun 1780 deskripsi lain mengenai rampogan muncul dari Surakarta. Rampogan dilaksanakan di alun-alun utara, disaksikan penguasa. Diawali dengan turnamen tombak berkuda lalu ditutup prosesi dimana orang-orang bertombak ramai-ramai mengelilingi harimau dan membunuhnya dengan tombak.

Macan di ujung tombak

Tradisi ini di Yogyakarta atau Surakarta kemudian diceritakan menjadi tradisi reguler untuk menyambut tamu kehormatan dari Eropa. Sejak tahun 1791 alun-alun utara dijadikan lokasi Rampogan, diyakini karena alun-alun merupakan bagian terluar keraton yang melambangkan hubungan keraton dengan masyarakat. Selain itu, alun-alun dikelilingi pohon beringin (waringin) berpagar di kedua sisi membentuk payung, yang diyakini merepresentasikan gunung Mahameru yang dipercaya sebagai pusat alam, serta menghubungkan keraton dengan langit dan alam bawah.

Konteks alun-alun dengan dua pohon beringin sendiri sama-sama dapat disaksikan di Surakarta maupun Yogyakarta. Junghuhn scr spesifik merujuk kepada alun-alun Surakarta dengan dua pohon beringin yg dinamakan Dewadaru dan Jayadaru. Harimau yg akan diikutkan rampog, akan dikandangkan dulu sebelum dilepas untuk dikeroyok ramai2 di tengah alun-alun bagian utara.

alun-alun

BACA JUGA : RAMPOGAN MACAN : Tradisi Penguasa Jawa (Rampogan Macan Bagian 2)

Tidak lagi dikeroyok di alam bebas dalam perburuan seperti sebelumnya. Kandang harimau yang akan “dikorbankan” memiliki karakteristik cukup besar dan biasa diletakkan di utara / selatan alun-alun. Pada 1850 kandang2 harimau milik Kraton Surakarta diperkirakan menampung 7-9 harimau, jumlah yang memancing mortalitas tinggi harimau saat itu. Kandang harimau ini dibuat dari kombinasi bambu dan kayu, didesain mudah dibuka dengan tarikan tali tambang atau pintu yang mudah terbuka. Diselimuti rumput kering atau material yang mudah terbakar di sekitarnya.

Awal abad ke-18 menjadi akhir kesaksian adu harimau vs banteng dalam tradisi rampogan. Banteng (Bos javanicus) yang sebelumnya jadi lawan harimau perlahan diganti dengan Kerbau air (Bubalis bubalis). Kerbau dan harimau ini akan diadu, setelah masing-masing dikurung dalam kurungan di alun-alun.

Kandang Macan

Adu kerbau vs harimau ini diawali masuknya orang yang bertugas membuka kandang. Usai memberi hormat kepada penguasa mereka perlahan membuka kandang, orang-orang lainnya membawa alang-alang yang sudah dibakar, segera menyulut kandang dengan api. Seorang pemberani yang bertugas membuka kandang ini lalu balik ke barisan usai mendapat tanda dari penguasa. Sedang api yang membakar kandang segera memancing harimau keluar berhadapan dengan kerbau yang  ‘marah’ karena dipancing dengan pecutan daun atau siraman air cabai.

Kepulan asap dari api yang membakar kandang macan

Adu harimau dengan kerbau ini berlangsung dikelilingi rakyat yang ingin berpartisipasi dengan masing-masing membawa tombak berbaris melingkar / memanjang segi empat. Kerbau yang ‘marah’ itu akan bergerak agresif dengan langsung menyeruduk harimau dan seketika membunuhnya.

Harimau seringkali jadi yang tewas dalam pertarungan ini. Tapi terkadang ada juga harimau yang sangat kuat hingga memaksa kerbau menyerah karena terluka. Kerbau yang luka ini segera digantikan dengan kerbau yang baru. Sedang harimau yang berhasil meloloskan diri dari aduan sudah ditunggu oleh ribuan orang bertombak di sekelilingnya. Harimau yang kelelahan lalu menjadi santapan tombak ribuan orang itu. Beberapa berusaha lari, tapi hampir pasti mereka tewas di ujung tombak massa.

Tradisi ini begitu populer terutama di Yogyakarta dan Surakarta. Akan tetapi pada pertengahan abad ke-19 tradisi ini sudah jarang dijumpai lagi dan bergeser ke wilayah yang sudah lepas dari pengaruh Mataram dibawah kuasa Belanda seperti Priangan, Kediri, atau Blitar.

Faktor langkanya harimau di Jateng akibat intensitas tradisi ini pada abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19 diduga menjadi penyebab utama. Ditambah melemahnya posisi penguasa Surakarta dan Yogyakarta usai Perang Jawa akibat pengaruh Belanda yang semakin menguat.

Bagaimana hubungan kuasa Belanda dengan berkurangnya rampogan macan di Yogya dan Surakarta sendiri tidak hanya bersifat politis tapi juga ekonomis. Pada abad ke-19 di periode tingginya intensitas tradisi ini Belanda tidak melarang perburuan harimau dlm jumlah besar. Disebabkan Belanda punya kepentingan masa kebijakan Tanam Paksa (1830-1870). Dgn kepentingan memperkuat pamor pemimpin daerah agar penanaman komoditas paksa di daerah oleh rakyat berjalan lancar untuk ekspor dan mengisi kas negara. Belanda mendorong tradisi ini terus terlaksana.

Perburuan macan

Tradisi ini dilakukan termasuk untuk menyambut kunjungan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang melakukan inspeksi ke daerah, seperti Van der Capellen pd 1822, Van den Bosch (1832), sampai Sloet Van de Belle (1862)

Usai era Tanam Paksa, Belanda tidak lagi berkepentingan dengan tradisi Rampog macan untuk prestise pemimpin daerah, ditambah melemahnya kuasa daerah.

Mulai langkanya harimau karena perburuan dan tradisi dengan intensitas tinggi. Belanda mulai mengeluarkan aturan yang melarang harimau diburu. Tercatat pasca 1870 tradisi ini benar-benar hilang, akan tetapi masih berkembang di daerah-daerah. Tradisi ini akhirnya berkembang ke daerah seperti Kediri dan Blitar yang sudah di bawah kuasa Belanda dan lepas dari kedigdayaan Mataram. Di daerah ini rampog macan bisa dilakukan karena jumlah harimau yang relatif banyak di hutan Lodaya dan sekitarnya.

Meskipun tradisi rampog di daerah tidak sekhidmat atau semewah tradisi di Yogya dan Surakarta. Tradisi ini terakhir terlihat pada 1906 di Kediri, sebab jumlah harimau yang makin langka, selain dampak rampog juga karena erupsi gunung Kelud tahun 1901.

HALAMAN SELANJUTNYA ==>

No Responses

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *