Menu

RAMPOGAN MACAN : Tradisi Penguasa Jawa (Rampogan Macan Bagian 2)

RAMPOGAN MATJAN BAGIAN 2

Tradisi ini terlihat begitu kejam, tetapi mengapa penguasa dan masyarakat di Pulau Jawa senang melakukannya? Hal ini tidak terlepas dari falsafah dan nilai yang ada dibaliknya. Menurut Anderson (1972), tradisi rampok macan bukan semata tradisi hiburan saja. Di sisi lain ia menggambarkan kedigdayaan para pemimpin di Pulau Jawa saat itu, asosiatif dengan falsafah Jawa dimana pemimpin dianggap mempunyai kekuatan kosmik (kasekten/ kesaktian).

Pemimpin Jawa yang diyakini memiliki kasekten atau kesaktian

Menurutnya, tidak ada negeri terbentuk tanpa kesaktian, fungsi sosok pemimpin adalah menarik kekuatan tersebut dan menyinarinya ke seluruh alam. Alam sebagai pusat jagat raya, serta pemimpin sebagai penguasa alam, sehingga pemimpin dianggap sebagai pusat alam-jagat raya-juga reinkarnasi Sang Pencipta.

Hal ini digambarkan dari contoh penamaan pemimpin Jawa seperti Paku Buwana (Spike of the Earth). Posisi pemimpin yang dianggap mampu mengalirkan kekuatan kosmik ini dipercaya dengan sendirinya menghadirkan kesuburan, kemakmuran dagang, serta kesejahteraan pada negerinya.

Moertono (1981) menjelaskan, masyarakat Jawa tidak menganggap suatu negeri bisa memenuhi kewajibannya bila tak mampu menghadirkan ketentraman (tentrem ; Jawa), serta menegakkan pranata (tata), keduanya hrs didapatkan secara seimbang dan harmoni.

BACA JUGA : RAMPOGAN MACAN, ANTARA TRADISI DAN PEMBANTAIAN (Bagian 1)

Ketentraman sendiri merupakan hasil sifat paling halus dan lembut yang ada di alam. Gambaran sifat paling halus dan terpuji tersebut harus bisa digambarkan oleh penguasa. Sedang kesaktian dapat diartikan sbg semangat dalam jiwa seorang pemimpin. Kombinasi dari semangat dan ketentraman pemimpin dianggap akan mengundang kemakmuran dan kesuburan suatu negeri.

Maka tidak heran diceritakan Susuhunan Surakarta dalam memulai rampogan akan duduk diam tanpa ekspresi apapun (tenang), ekspresi yang menggambarkan ketenangan. Ketenangan adalah etika yang perlu dipegang oleh pemimpin dan sebaiknya tidak menunjukkan ekspresi yang terlalu berlebihan.

Sebaliknya harimau direpresentasikan sebagai sosok yang merusak harmoni dan ketentraman yang dibangun pemimpin. Meski hubungan antara harimau dan manusia bersifat ambigu, kadang berdampingan kadang bermusuhan.

Hal ini mengacu kepada kondisi masyarakat saat itu yang dilaporkan jarang sekali diserang harimau, tetapi merasa terancam oleh kedatangan harimau yang terkadang memangsa ternak masyarakat.  Harimau sendiri dianggap sebagai datuk/nenek sebagai wujud leluhur manusia (Neill 1973, v.Balen 1914), tidak semata menjadi musuh / pihak jahat. Ditunjukkan dengan tradisi rampog seperti yang ada di Kediri atau Blitar yang didahului tari reog berwujud harimau.

BACA JUGA : EDDY TANSIL, DARI JURAGAN BECAK SAMPAI BURONAN KELAS KAKAP INDONESIA

Harimau (sima) sendiri diadu dgn kerbau (maesa), kerbau diasosiasikan sebagai kendaraan untuk jiwa manusia ke alam selanjutnya. Kerbau juga biasa digunakan membajak sawah dan meninggalkan galur sebagai simbol batas antar alam/dunia di banyak masyarakat Asia Tenggara.

Dewa Siva

Menurut ceritera Manikmaya, harimau adalah binatang yang dulu hidup berdampingan degan manusia sebelum terusir keluar. Sebaliknya kerbau adalah binatang yang hidup di luar masyarakat sebelum dibawa masuk dan hidup berdampingan dengan komunitas. Dalam epos Hindu, harimau dan banteng (Nandi)- di Jawa diasosiasikan mejadi kerbau- adalah binatang yang sama-sama hidup di sisi Siva dan wujud lain kekuatan Siva. Mereka juga berdampingan dengan manusia. Seiring posisi Siva yang juga membawahi alam manusia.

Hal ini juga digambarkan dalam pewayangan sebelum wayang dimulai atau akan diakhiri akan ada bagian dalang memainkan gunungan. Gunungan merepresentasikan perseteruan tanpa akhir harimau melawan kerbau.

Gunungan dalam seni Wayang Kulit

Harimau digambarkan mmbawa sifat seperti kekacauan, liar, dan dunia yang ganas, meski disertai dengan kesehatan dan kelahiran kembali. Sedang kerbau digambarkan membawa sifat seperti kematian dan penyakit, tetapi juga membawa kesuburan dan keberlangsungan alam.

Barangkali hal ini yang selanjutnya dipertontonkan di alun-alun sebagai tradisi masa lalu, yaitu konfrontasi antara dunia liar dan ganas yg berusaha masuk melawan keberadaan dunia aman dan tentram dengan pranata sosial di dalamnya.


Selain itu harimau sering dikaitkan dengan representasi kekuatan dari luar yg merusak yaitu penjajah Belanda. Sebaliknya masyarakat Jawa dan pemimpinnya mengasosiasikan mereka diwakili oleh kerbau, merindukan ketenteraman dan juga sebagai pihak protagonis yang menderita.

Kerbau di Surakarta sedari lama merupakan hewan keramat dan menjadi kesayangan pemimpin keraton. Contohnya adalah tradisi kerbau bule yang masih dilaksanakan di Keraton Surakarta tiap satu Suro. Kerbau ini konon merupakan keturunan kerbau bernama Kyai Slamet yang menjadi kesayangan Paku Buana II.

Kebo Bule dari keraton Surakarta

Tidak heran penonton yang didominasi masyarakat Jawa sering kecewa bila si kerbau kalah dari harimau. Mangkubumi dari Yogya diceritakan pernah terlihat puas ketika pada suatu adu kerbau vs harimau saat harimau yang diadu malah membunuh harimau lainnya di arena, si kerbau hanya melihat.

Meski sifat yang direpresentasikan harimau dan kerbau ini juga menggambarkan sifat pemimpin. Sifat baik dari kerbau menggambarkan langkah pemimpin menghadapi internal negeri, sifat ganas harimau menggambarkan kekuatan pemimpin menghadapi ancaman dari luar, sifat yang sama-sama perlu dikendalikan oleh sang pemimpin.

Keberadaan orang-orang bertombak dalam rampog macan merepresentasikan komunitas masyarakat. Sehingga harimau yang merepresentasikan kekuatan jahat dianggap harus terus dihilangkan lagi dan lagi, karenanya penekanan dalam tradisi ini adalah matinya harimau. Yang biasanya bersamaan dengan  momen Idul Fitri atau tahun baru Islam (Muharram). Sebagai awal yang baik memulai segalanya setelah menyingkirkan kekuatan jahat.

Harimau malang ini akhirnya resmi dinyatakan punah pada 1976 pasca putusan IUCN di Florida. Walaupun, masih banyak sampai hari ini kesaksian dan penemuan jejak keberadaannya yang diduga masih ada di hutan sekitar Ijen, Meru Betiri, sampai Ujung Kulon.

Tahun 1997 sampai 2005 pernah dilakukan ekspedisi pencarian oleh Komunitas Pencinta Alam Pemerhati Lingkungan ke Meru Betiri hingga Ungaran . Ekspedisi tersebut menghasilkan kesimpulan bila harimau Jawa diduga masih eksis, berdasar jejak cakar, telapak kaki, feses, dan sisa makanan. Tahun 1998, seminar nasional di UGM merekomendasikan peninjauan ulang atas putusan kepunahan harimau Jawa.

BACA JUGA : EDDY TANSIL, DARI JURAGAN BECAK SAMPAI BURONAN KELAS KAKAP INDONESIA

Hal ini mendorong tokoh pemerhati harimau Jawa seperti Didik Raharyono untuk terus melakukan ekspedisi mencari jejak si raja hutan Jawa. Hasilnya pada 2004 ia menemukan kotoran yang diduga milik harimau Jawa, berukuran 7 cm tanpa sisa daun, berbeda dari kotoran macan tutul Jawa.

BACA JUGA : RAMPOGAN MACAN, ANTARA TRADISI DAN PEMBANTAIAN (Bagian 1)

Pada 2008 ia mendapat sampel kulit harimau yang dibunuh di Jateng dan Jatim, serta kesaksian warga sekitar Meru Betiri akan interaksi mereka dengan harimau loreng. Dengan putusan punahnya harimau Jawa, terhitung Indonesia sudah kehilangan 2 dari 3 spesies harimau endemik. Kerabat lain harimau yang punah ini yaitu Harimau Bali yang punah tahun 1940. Lainnya, seperti harimau Sumatera berada dalam kondisi endangered akibat banyak faktor utamanya manusia. Dugaan keberadaan harimau Jawa yang terbaru adalah berdasar foto tahun 2017 di Ujung Kulon.

Terlepas akibat tradisi, kepunahan ini jadi penanda bahwa masih banyak masyarakat belum aware akan pentingnya keseimbangan alam, sehingga dalam interaksi dengan alam, manusia merasa mesti memegang kendali. Dampaknya penghilangan habitat atau perburuan satwa langka pun dipandang tidak masalah, beberapa malah dengan bangga mempostingnya di medsos.

Masih banyak satwa endemik di luar sana yang terancam punah tapi masih bisa kita selamatkan. Contohnya harimau Sumatera atau Orangutan, walaupun bukan bagian dari KLHK atau WWF, menumbuhkan kesadaran untuk melindunginya sebelum terlambat adalah bentuk kepedulian kita terhadap keseimbangan alam.

Dan demikianlah, usai sudah paparan tentang Harimau Jawa. Semoga bisa memberi informasi dan menambah wawasan kalian semua seputar tradisi rampog macan dan asosiasinya terhadap kepunahan Harimau Jawa.

Untuk referensi  tercantum di bawah yaa…

Wessing, R. (1992), a Tiger in the Heart the Javanese Rampok Macan, KITLV https://www.researchgate.net/publication/41017584_A_tiger_in_the_heart_the_Javanese_rampok_macan

Boomgard (1994), Death of the Tiger! The Development of Tiger and Leopard Rituals in Java (1605-1906), Southeast Asia Research https://www.researchgate.net/publication/318333411_Death_to_the_Tiger_The_Development_of_Tiger_and_Leopard_Rituals_in_Java_1605-1906

Ikhsanuddin, Ijen dan Eksistensi Harimau Jawa yang Dinyatakan Punah, https://www.mongabay.co.id/2019/06/12/ijen-dan-eksistensi-harimau-jawa-yang-dinyatakan-punah/

Raharyono, Didik , Situs Peduli Karnivor Jawa, (Organisasi resmi), http://www.pedulikarnivorjawa.org/?AWAL:HARIMAU_JAWA%26nbsp%3B_Panthera_tigris_sondaica

Wibisono, Nuran, Usaha-Usaha Mencari Harimau Jawa, http://Tirto.id

Credit to : WWF Indonesia atas berbagai sebaran informasi yang berhasil dihimpun dari internet

Credit juga kepada para pelukis legendaris seperti Raden Saleh, Josias Cornelis Rappard, Louis de Stuers yang lukisan-lukisan legendarisnya ditampilkan di artikel ini.

No Responses

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *