Tradisi “Pukul Sapu” (Maluku)

Siapa tidak tahu sapu lidi dari pohon enau (arenga pinnata). Sapu yang umumnya dipakai membersihkan halaman, walaupun memiliki bentuk ramping serta kecil, batang sapu ini bisa menyebabkan sakit bila dipukul ke tangan, kaki atau anggota tubuh lain.

Pertarungan-Baku-Pukul

Tetapi, tak demikian untuk warga di Desa Mamala serta Morela, Kecamatan Leihitu, Pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), walau dipukul berulang-kali dengan batang lidi yang dalam bahasa Maluku dimaksud pohon mayang, sampai menyebabkan guratan merah di tubuh serta keluarkan darah, sudah jadi hal yang umum serta wajar.

Rutinitas saling memukul dengan lidi adalah satu diantara kebiasaan unit masyarakat ke-2 desa bertetangga serta mempunyai pertalian hubungan saudara yang di kenal dengan ritual adat ” Pukul Sapu “.

Ritual adat tergolong ekstrim di desa yang terdapat dibagian Timur Pulau Ambon itu umumnya di gelar setiap tahun waktu perayaan 7 Syawal setelah umat Muslim usai merayakan Idul Fitri. Kebiasaan ini juga sudah dikerjakan serta selalu dilestarikan dari abad 16 atau di saat penjajahan Portugis serta Belanda.
tumblr_m9oueyrlct1rfosfgo7_500
Pada Lebaran tujuh Syawal tahun ini kebiasaan yang melegenda itu kembali di gelar serta menyedot perhatian ribuan wisatawan lokal, nusantara ataupun mancanegara.

Di Desa Morella umpamanya, kebiasaan pukul sapu ini bukan sekedar diikuti oleh pemuda atau orang dewasa saja. Ada babakan sendiri yang dikhususkan pesertanya merupakan anak-anak.

Tradisi “Pukul Sapu” (Maluku)
Jumlah peserta ritual adat ini sesungguhnya tak dibatasi, namun sesuai dengan keadaan arena yang disiapkan. Di Desa Morella jumlah pesertanya dibatasi 60 orang pemuda–berbadan tanggung bertelanjang dada–dibagi tiga grup atau masing-masing 20 orang per grup.

Masing-masing grup juga dibagi jadi dua regu. Mereka cuma memakai celana pendek serta berikat kepala. Masing-masing regu cuma dibedakan oleh warna celana yang dipakai yaitu merah serta kuning atau hitam serta kuning.
Mamala
Sedang di desa Mamala, satu grup pemuda dibatasi 20 orang sampai 30 orang karena lokasi arenanya lebih luas. Grup masing-masing dibedakan oleh warna celana merah serta putih.

Satu hari sebelum saat ritual adat dikerjakan, para pemain harus dihimpun dalam rumah adat masing-masing untuk melakukan upacara adat serta berdoa meminta pertolongan serta restu sang pencipta dan para leluhur untuk melindungi para pemuda yang akan ikuti ritual itu.