Uniknya Desa Tradisional Compang Ruteng

Desa Tradisional Compang Ruteng NTT – Jaraknya cukup dekat dari pusat Kota Compang, sekitar 15 Menit perjalanan naik kendaraan bermotor melalui Hutan Bambu menuju Ruteng Pu’u, Desa Tradisional Compang Ruteng saat ini memiliki dua buah rumah yang masih terjaga kelestariannya, sedangkan rumah di sekitarnya sudah mengalami proses modernisasi karena sudah menggunakan seng sebagai atap rumahnya.
15Rumah di kampung Desa Tradisional Compang Ruteng berbentuk kerucuk, sekilas mirip seperti simbon wanita pada Kampung Tradisional Bena, namun untuk Rumah di Compang ukurannya lebih besar dan pada puncak atapnya nampak ada simbol seperti tanduk kerbau dan sebuah Pedang yang menancap pada kepala kerbau. Di Kampung tradisional Compang akan kita temukan Altar Batu yang bertumpuk di bagian tengah perkampungan itu.
16
Di Desa Tradisional Compang Ruteng terdapat sawah jaring laba – laba yang bentuknya seperti jaring Laba – Laba karena sistem penerapannya menggunakan sistem Lodok dan pembagian sawahnya di sejumlah lingko atau hamparan. Tata caranya di lakukan dengan menarik satu garis lurus disatu titik secara bersamaan. Beberapa orang mengatakan bahwa tata cara pembagiannya seperti pemotongan kue Tar atau disesuaikan dengan karakter Sarang Laba – Laba.

Uniknya sawah ini merukapan peninggalan awal budidaya sawah di Manggarai Raya, yang merupakan kantong beras di Nusa Tenggara Timur. Manggarai Raya yang terdiri dari Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur Merupakan Penghasil Beras terbesar di Nusa Tenggara Timur, Bahkan Manggarai Raya Menjadi Lumbung beras untuk provinsi Nusa Tenggara Timur

Untuk mengunjungi Desa Tradisional Compang Ruteng ada beberapa rute yang dapat ditempuh, yaitu :
Udara : pesawat yang melayani Rute Ke Ruteng adalah : Trans Nusa dan Merpati Nusantara Airlines dari Kupang, Harga Tiketnya berpariasi mulai dari 500.000 hingga 1.200.000
Darat : bisa memalui kabupaten Manggarai Barat (Labuan Bajo) Menuju Kota Rutenga dengan menggunakan Travel harga Kisaran 120.000