Wisata Pura Tanah Lot Bali

Pura_tanah_lot_sunset_no3

PURA Tanah Lot adalah satu diantara tempat wisata terbaik di Bali. Pura Tanah Lot mempunyai keunikan dikarenakan berdiri di tepi laut. Sebagian mitos serta pantangan dipercaya orang-orang sekitar seputar tempat peribadatan ini.

Satu diantara pantangan yaitu janganlah membawa kekasih Anda ke Pura Tanah Lot. Tak jelas bagaimana asal-muasal mitos ini menyebar. Tetapi untuk orang-orang Bali, pantangan ini dipercaya dengan teguh.

Orang-orang Bali yakin dengan mitos bahwasanya bila datang ke Pura Tanah Lot bersama-sama pacar, maka hubungan dipercaya tidak bakal bertahan lama. Hubungan yang ditempuh bersama pacar bakal merenggang sampai pada akhirnya putus. Tetapi, mitos itu tak berlaku untuk yang telah berkeluarga. Silahkan Anda memilih, bisa yakin, bisa juga tidak.

Wanita yang sedang hamil serta tengah haid juga dilarang naik ke Pura Tanah Lot. Wanita yang sedang haid dianggap lagi tengah kotor hingga dilarang melaksanakan ritual keagamaan. Menurut narasi, sempat ada seseorang wanita yang sedang haid hendak jalan di jembatang penghubung tebing menuju Pura Tanah Lot. Tetapi, tiba-tiba saja jembatan rubuh. Oleh karena itu, saat ini sudah tidak ada lagi jembatan yang menghubungkan tebing menuju Pura Tanah Lot.

Lalu, di Pura Tanah Lot juga ada air suci, tepatnya dibawah pura. Air suci ini dipercaya dapat menghadirkan rejeki untuk yang meminumnya.

Sementara, di seberang Pura Tanah Lot ada gua tempat mendekamnya ular yang benar-benar disucikan orang-orang Bali. Ular ini benar-benar besar serta berdiam diri di suatu lubang yang ada di gua. Beberapa wisatawan juga dapat lihat langsung atau memegang langsung ular ini.

Untuk memegang ular ini, beberapa wisatawan dikenai biaya sukarela untuk perawatan. Orang-orang Bali juga yakin, ular suci ini kerap berpindah-pindah ke pura yang ada di seberangnya. Biasanya, ular suci pergi ke Pura Tanah Lot pada malam hari untuk menjaga pura.

Tak sembarang orang dapat naik ke atas Pura Tanah Lot. Cuma pada ritual-ritual tertentu orang bisa naik ke pura. Kalaupun tak ada ritual atau upacara, harus naik atas seizin pemangku adat.